Minggu, 02 Januari 2011

Makna hari perayaan Sivarartri

Sivarartri jatuh setahun sekali yaitu pada malam purwaning tilem kepitu (malam 1 hari sebelum bulan mati yang ke 7 dalam perhitungan kalender bali) menurut kepercayaan malam tersebut adalah malam yang paling gelap dalam satu tahun. Malam yang paling gelap tersebut sedikit tidaknya dapat mempengaruhi diri kita. Malam tersebut dapat membangkitkan kegelapan dalam diri kita. Dalam Agama Hindu, ada 7 kegelapan (mabuk) dalam diri kita yang disebut sapta timira yaitu
  1. mabuk karena kekayaan
  2. mabuk karena kerupawanan,
  3. mabuk akan kepandaian,
  4. mabuk karena kebangsawanan,
  5. mabuk karena keremajaan,
  6. mabuk karena minuman keras dan
  7. mabuk karena kemenangan
kegelapan itu terjadi karena adanya kesimpang siuran dalam struktur alam pikiran. Kesimpang siuran terjadi apabila pikiran dikuasai oleh sepuluh indria sehingga melahirkan manusia yang senantiasa menghumbar hawanafsu. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan melaksanakan Brata Sivaratri, yang meliputi
  • jagra
  • upawasa
  • mona
  • dana punia

jagra artinya berjaga, bangkit atau tidak tidur. Secara singkat dapat dikatakan bahwa manusia yang dibelenggu oleh raga atau indriyanya dikatakan tidur, manusia yang tidur dikatakan papa(kotor). agar terlepas dari papa neraka, manusia harus sadar akan Sang Diri.

Lalu bagaimana caranya untuk mendapatkan kesadaran diri? Kesadaran dapat diperoleh apabila kita mengerti tentang hakekat hidup ini. Darimana asal kita dan kemanakah kita akan menuju? Menurut ajaran Siva Tatwa, kehidupan terjadi karena adanya pertemuan antara purusa dan predana. Purusa adalah Jiwa kesadaran yang merupakan sumber dharma, sedangkan phradana adalah sumber material yang diliputi oleh kegelapan. Inilah yang menyebabkan manusia hidup antara kesadaran dan kegelapan. Karena itu perbuatan manusia digolongkan menjadi dua :
  • perbuatan yang berdasarkan atas dominasi dharma (shubbha karma)
  • perbuatan yang berdasarkan atas dominasi material (asubha karma)
pahala dari shubha karma adalah sorga, sedangkan pahala dari asubha karma adlah neraka, karena itu untuk mencapai kesadaran diri, kita harus berusaha berbuat dengan dominasi subha karma. Caranya dengan mengendalikan pikiran beserta kesepuluh indrianya.

Upawasa artinya berpuasa(tidak makan). Selain itu, upawasa lebih jauh merupakan pengendalian terhadap makanan dan minuman(aharalaghawa). Manusia harus selalu mencari makanan dan minuman dengan cara yang benar, dan makanan yang baik bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dalam hal ini, Kita semestinya menyantap hidangan yang sebelumnya dipersembahkan kepada Hyang Widhi, tanpa itu kita dikatakan makan dosa sendiri. Upawasa juga berarti usaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mengendalikan hawa nafsu dengan cara puasa(tidak makan minum)

Mona artinya tidak bicara, yang mengandung makna agar setiap orang berbicara berdasarkan kesadaran diri. Aturan tata tertib berbicara telah dimuat dalam kekawin NitiSastra sebagai berikut
“... karena bicara kita memperoleh kebahagiaan, karena bicara pula kita mendapatkan kematian, karena bicara kita dapat kesusahan, dan karena bicara pula kita mendapatkan sahabat”. 
Dengan demikian, mona tidak semata-mata mengandung makna diam, tapi lebih jauh dalam kesehariannya mengisyaratkan kita agar selalu berbicara atas dasar kesadaran. Dalam Bhagawad Gita disebutkan : 
“berbicara tanpa menyinggung, melukai hati, dapat dipercaya, lemahlembut, berguna dan mempelajari kitab suci, ini dinamakan bertapa dengan ucapan”(BG.XVII:15)

dana punia artinya pemberian dengan tulus sebagai bentuk pengamalan ajaran dharma. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/ wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik(Dharmadhana), berupa pendidikan(widyadana) dan berupa hartabenda(atrhadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat.

Begitulah sedikit makna dari malam Sivaratri, tidak semata-mata melakukan tapa brata di malam itu saja, namun lebih dari itu kita harus mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.

Sumber: sivaratri(tinjauan Sosioreligius dan Filosofis)